Skip to main content

Dalam setiap ekosistem terdapat interaksi antara faktor biotik dan abiotik. Sekolah dapat disebut sebagai ekosistem karena terdapat faktor biotik dan abiotik yang saling berinteraksi. Faktor biotik di sekolah dapat berupa kepala sekolah, guru, murid, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, wali murid, masyarakat, dinas pendidikan, dan pemerintah daerah atau pusat. Sedangkan faktor abiotik berupa lingkungan sekolah, keuangan, maupun sarana dan prasarana.

Faktor biotik dan abiotik yang ada di sekolah merupakan aset yang dimiliki oleh sekolah tersebut. Aset atau modal tersebut harus dikembangkan agar dapat dimanfaatkan untuk melaksanakan pembelajaran yang berkualitas. Pengembangan ini dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) yang lebih kita kenal sebagai Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) yang dikembangkan oleh John McKnight dan Jody Kretzmann. Pendekatan PKBA menitikberatkan pada pengembangan potensi aset atau sumber daya yang dimiliki sendiri.

Terdapat 7 modal utama (aset) yaitu: modal manusia, modal sosial, modal politik, modal agama dan budaya, modal fisik, modal lingkungan/alam, dan modal finansial. Berikut pemanfaatan modal atau aset yang dimiliki oleh SMP Negeri 7 Madiun.

Seorang pemimpin sekolah bertugas sebagai fasilitator yang akan menggerakkan, memimpin, dan mengelola segala aset dan sumber daya yang dimiliki. Sumber daya tersebut harus dikelola secara maksimal dan tepat sehingga dapat membantu mewujudkan pembelajaran yang berkualitas dan berpihak pada murid. Sebagai contoh guru dapat mengelola sumber daya yang ada di kelas tersebut untuk menciptakan pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan pada murid. Guru juga dapat memanfaatkan segala sumber daya yang ada untuk memfasilitasi pembelajaran akademik maupun non akademik murid. Pemimpin sekolah juga dapat melakukan kerjasama atau kolaborasi dengan masyarakat atau stakeholder untuk mendukung pembelajaran agar kualitasnya meningkat.

Penulis pernah berkesempatan untuk mengelola sumber daya yang ada untuk menyelenggarakan pembelajaran yang berpihak pada murid. Pada saat itu, penulis mendapatkan amanah sebagai ketua untuk menyelenggarakan kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan memilih tema Bangunlah Jiwa dan Raganya. Kegiatan ini diselenggarakan dalam bentuk penampilan (performance) bakat murid kelas 7 antara lain: tari tradisional, tari kreasi, seni banjari, pencak silat, vokal grup, dan drama. Penampilan dilakukan secara berkelompok berdasarkan bentuk penampilan yang mereka pilih sesuai dengan bakat atau minat mereka. Namun kami menghadapi kendala yaitu keterbatasan dana. Berdasarkan hasil rapat, kami memutuskan dana yang terbatas tersebut untuk digunakan menyewa sound system dan konsumsi panitia. Kami menggunakan lapangan sepak bola sebagai panggung. Sedangkan pot-pot bunga dan hiasan bunga kami gunakan sebagai “pemanis” panggung. Kegiatan ini dipimpin oleh 2 murid kelas 7 dan 2 murid kelas 8 yang bertugas sebagai MC acara. Mereka bertugas untuk mengendalikan jalannya acara sehingga semua kelompok dapat tampil dalam waktu satu hari (sampai jam pulang sekolah). Alhamdulillah kegiatan berjalan lancar. Berikut beberapa dokumentasi kegiatan tersebut.

Ketika berhadapan dengan suatu masalah sebagai contoh keterbatasan dana untuk menyelenggarakan kegiatan P5 maka, perlu dilakukan diskusi dengan seluruh panitia untuk menemukan solusi bersama. Pengambilan keputusan ini dapat menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Selain dana, terdapat beberapa murid yang belum menampilkan bakat mereka. Penulis menerapkan teknik coaching dan segitiga restitusi agar murid tersebut menemukan sendiri solusinya yaitu dengan membuat kelompok baru untuk menampilkan bakat atau minat mereka pada lain waktu yang sudah dijadwalkan. Dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut, penulis juga harus dapat menerapkan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills) dalam berinteraksi dengan kepala sekolah, rekan sejawat, tenaga kependidikan, dan murid agar kegiatan dapat berjalan sesuai yang diharapkan.

Setelah memahami materi mengenai bagaimana seorang pemimpin mengelola sumber daya yang ada demi meningkatkan kualitas pembelajaran, penulis semakin termotivasi untuk melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid. Selain itu, dengan segala keterbatasan yang ada (sumber daya yang ada) harus kita ubah menjadi sumber daya yang berpotensi untuk mewujudkan pembelajaran yang berkualitas dan berpihak pada murid. Guru haruslah pantang menyerah dan memutar otaknya untuk mencari ide-ide yang inovatif demi masa depan murid.

yusma ria

Author yusma ria

More posts by yusma ria

Leave a Reply